Rabu, 15 Mei 2013

tugas psikolinguistik 2

Identitas Sekolah
Nama Sekolah : SDN Dlepih 4
Alamat Sekolah : Desa Dlepih, Kecamatan Tirtomoyo, Kabupaten Wonogiri



Gambar di atas merupakan sebuah tata tertib. Artinya ke-9 poin di atas merupakan hal-hal yang wajib dilaksanakan oleh peserta didik. Bila dicermati, tata tertib di atas mengajarkan beberapa hal pada peserta didik. Poin pertama menandakan bahwa murid tidak boleh datang terlambat. Poin kedua mendidik siswa untuk berlatih tertib dan teratur dengan berbaris terlebih dahulu sebelum masuk kelas. Poin ketiga mengajarkan siswa untuk senantiasa menghormati dan menghargai pendidik. Poin keempat lebih menekankan pada peningkatan aspek spiritual pada siswa agar siswa terbiasa dan senantiasa mendekatkan diri pada Allah. Poin kelima mendidik siswa untuk belajar mandiri dan melatih keberanian serta mental siswa. Poin keenam melatih siswa untuk berkonsentrasi pada apa yang diajarkan guru. Poin ketujuh, selain melatih konsentrasi siswa juga mendidik siswa agar dapat menghargai orang yang sedang berbicara. Poin kedelapan mengajarkan siswa sebuah kedisiplinan dan mengenali identitas sekolahnya. Poin terakhir menanamkan religiusitas dalam diri siswa dan rasa hormat pada gurunya.


Gambar di atas merupakan sebuah slogan yang diutarakan oleh Ki Hajar Dewantara. Slogan di atas mengandung nilai filosofi yang nantinya dapat membentuk kepribadian siswa. Bila dijabarkan “Ing ngarso sung tuladha” maksudnya, guru sebagai oaring yang lebih dewasa dan berpengalaman tentunya harus memberikan sebuah contoh kepada anak didiknya. “Ing madya mangun karso” artinya, selain memberikan contoh, guru harus mengajar, mendampingi dan mendidik muridnya agar menjadi pribadi yang berakhlakul kharimah. Yang terakhir “ Tut Wuri Handayani”, ini berarti guru juga harus mampu dan sealu memberikan dorongan dan motivasi pada anak didiknya untuk maju dan mengembangkan potensi yang dimilikinya sesuai bakat yang dimiliki.


  Gambar di atas merupakan sebuah slogan. Gambar di atas menjelaskan bahwa siapa yang gemar membaca akan kaya dengan pengetahuan. Hal ini bisa memotivasi siswa untuk senantiasa membaca. Jadi guru tidak perlu memaksa siswa untuk membaca. Cukup dengan membaca slogan tersebut, seharusnya siswa yang cerdas tidak perlu diperintah, tapi dengan sendirinya ia akan mulai menumbuhkan minat untuk membaca.







Gambar di atas merupakan 4 pilar kebangsaan. Selain diajarkan tentang materi-materi pelajaran,  dalam diri siswa juga perlu ditanamkan jiwa kebangsaan. Dengan pemasangan 4 pilar kebangsaan di atas, diharapkan siswa mampu mencintai tanah airnya. Siswa diharapkan mengamalkan nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila. Siswa juga diharapkan mampu memahami makna dari UUD 1945 dan belajar untuk mengerti isi dari pasal-pasalnya. Dan terakhir dengan semboyan “Bhineka Tunggal Ika” siswa diharapkan mampu memupuk rasa persatuan dan kesatuan antar warga sekolah meskipun berasal dari kalangan yang tidak sama.

 
Gambar di atas merupakan sebuah budaya yang mulai diterapkan dalam sebuah sekolah. Budaya di atas, cenderung diperuntukkan bagi guru. Hal tersebut sebenarnya adalah sebuah peraturan atau tata tertib bagi guru, namun dikemas menggunakan bahasa yang sedemikian rupa, sehingga hasilnya terlihat lebih baik. Dengan membaca 10 budaya tersebut, maka seorang kepala sekolah tidak perlu memberikan teguran kepada guru-guru yang melakukan 10 hal tersebut. Guru seharusnya menyadari kewajibannya sebagai tenaga yang professional. Guru yang baik akan memiliki rasa malu yang begitu besar bila ia melakukan hal-hal yang tertulis dalam 10 budaya malu tersebut. Hal ini merupakan hal yang baik, karena terjadi seuah keadilan antara siswa dan guru. Tidak hanya siswa yang diberikan tat tetib, tapi guru juga harus dilatih untuk professional, namun dengan bahasa yang berbeda tentunya.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar